HAWA NAFSU … OH… HAWA NAFSU.

Ukhti muslimah, tak terkira betapa sulitnya hidup diakhir zaman ini, fitnah kerusakan merajalela.Melanda dari semua sisi kehidupan kita.Hawa nafsu telah dijadikan raja.Sehingga pandailah orang yang telah jelas dosa dan maksiatnya bersilat lidah mengharapkan legalitas dari apa yang telah mereka perbuat itu.Sehingga yang batil terlihat seolah-olah menjadi haq dan yang haq mengalami nasib yang tragis.Itu semua terjadi karena hawa nafsu manusia telah bebas berekspresi di era kita ini.Banyak diantara saudara maupun saudari kita seiman yang belum menyadari bahwa mereka telah dikendalikan oleh hawa nafsu mereka terlebih lagi apabila mereka jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi kita yang mulia maka akan semakin suramlah melihat kebenaran ini.

Sungguh Al-Qur’an telah menjelaskan akibat dari orang yang mengikuti hawa nafsu, karena itu kita harus berhati-hati marilah kita simak firman-Nya yang artinya :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah ayat 23)”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bunyi ayat diatas dalam kitab Tafsirnya dengan penjelasan yang sangat mendetail sekali, sangat mudah untuk kita fahami, beliau berkata:

Arti dari firman Allah Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” artinya adalah dia hanya berbuat berdasarkan perintah hawa nafsunya. Bila sang nafsu ini memandang sesuatu sebagai kebaikan maka dia mengerjakannya (mentaatinya). Bila dia melihatnya sebagai kejelekan maka dia akan meninggalkannya (walaupun itu adalah perintah Rabb-Nya).

Kemudian ayat selanjutnya yang berbunyiDan Allah membiarkannya sesat berdasar-Kan ilmu-Nya” maksudnya adalah karena Allah mengetahui bahwa perbuatan itu (menaati hawa nafsunya/menjadikan nafsunya sebagai sesuatu yang lebih dia taati) layak untuk

mendapatkan siksa dari Allah.Maka pada dasarnya balasan itu bersumber dari perbuatan yang sama. Maka Allahpun menyesatkannya sebagai balasan atas perbuatannya.

“Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya”sehingga dengan dikunci matinya pendengaran dan hatinya serta Allah meletakkan tutupan atas penglihatannya maka dia tidak dapat mendengar sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, tidak pula memahami sesuatu yang dapat dia jadikan petunjuk dan tidak melihat hujjah-hujjah yang akan meneranginya.Itulah sebabnya Allah berfirman:

Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” Ayat seperti ini telah difirmankan-Nya :
”Barangsiapa yang Allah sesatkan maka baginya tak ada yang dapat memberikan petunjuk. Dan, Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan”
(7:186)

Yakni, barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Ta’ala setelah diperingatkan dan disampaikan kepadanya risalah, dan kesesatan itu merupakan balasan atas keberpalingan mereka (membangkang/menolak kebenaran atau perintah Allah) maka sesungguhnya tidak ada seorangpun, bagaimanapun keadaan dia yang dapat menunjukkannya.

Dari ayat diatas dapatlah difahami betapa meruginya orang yang mengikuti hawa nafsunya dan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Hawa nafsu adalah pagar neraka jahannam yang mengelilinginya. Barangsiapa yang terseret kepada hawa nafsu,berarti dia terseret ke neraka. Sebagaimana hadits Nabi shalallau alaihi wassalam, beliau bersabda:Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi oleh syahwat” (HR.Bukari dan Muslim) 1

semoga Allah senatiasa menolong kita untuk selalu taat kepada-Nya dan menjadikan kita mampu untuk menundukkan hawa nafsu kita. Sehingga kebenaran akan menyetir hawa nafsu kita bukan hawa nafsu yang menyetir kita.Ibnu Mas’ud pernah berkata:kamu saat ini berada pada suatu masa dimana kebenaran menyetir hawa nafsu,namun akan datang suatu masa dimana nafsulah yang menyetir kebenaran” 2.

Dan, memang apa yang beliau katakan diatas telah terjadi di zaman kita ini, sungguh menyedihkan.Ya Rabb kami, bantulah kami semua kaum muslimin dan muslimah agar dapat menundukkan hawa nafsu kami sehingga kami akan mudah untuk menuju ketaatan kepada-Mu dan merasa ringan untuk meninggalkan larangan-Mu.amin Ya Mujibas Sailin.Wallahualam bishawwab.

Foot note:

50 Cara menepis hawa nafsu,hal:82, Ibnul Qayyim, Darul Falah.

Al-Jami’ liahkamil Qur’an 19/208

Maraji’:

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Juz 2/463, juz 4/315, Muh.Nasib Ar-Rifa’i, GIP,Jakarta

50 Cara menepis Hawa Nafsu, Ibnul Qayyim, Darul Falah

Penulis :  Ummu Raihanah  dari Jilbab-Online