PERNIKAHAN YANG PENUH BERKAH

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu,

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah semata. Sholawat & salam semoga tercurah kepada Rasululloh, keluarga, sahabat & pengikutnya yang berpegang pada Al Qur’an dan menegakkan sunnahnya dengan istiqomah, Amien.

Ukhti Ina yang senantiasa mendambakan bimbingan dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Bersyukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah begitu banyak ni’mat yang diberikan-Nya kepada kita, sudah sewajarnya bagi kita sebagai hamba-Nya untuk mensyukuri ni’mat ini khususnya ni’mat Islam dengan :

1. Meyakini bahwa ni’mat ini berasal semat-mata hanya dari Allah Ta’ala.

2. Syukur itu harus dibuktikan dengan keta’atan kepada Nya dengan menjalankan perintah-Nya sebagai hak Allah yang harus dipenuhi .

Mudah2an kita senantiasa menjadi hamba-Nya yang ta’at dan Istiqomah. Amien

Melanjutkan goresan Email kemaren berlalu , Insya’ Allah saya mencoba menuangkan dalam bentuk tulisan apa yang menjadi perhatian ukhti Ina sa’at ini untuk memahami seluk beluk pernikahan yang  penuh keberkahan ini. Apa yang ditulis disini bukanlah ditulis oleh seorang yang begitu mendalami pengetahuan tentang maksud diatas. Hanya saja semua itu didasari dari sumber ajaran Islam yakni Al-qur’an dan As-Sunnah yang shohih dari berbagai nukilan serta penambahan kalimat / bahasa yang bisa dipahami oleh yang membaca tulisan ini dan berdasarkan kapasitas ilmu yang saya miliki sebagai hamba Allah yang dhoif . Wallahua’lam bish showab.

“ Barakallahu laka wa baraka ‘alaikuma….”, “ Mudah-mudahan Allah memberkahimu …” begitulah do’a yang biasa mengiringi peresmian pasangan suami istri.

Mendo’akan agar pengantin diberkahi, keduanya dikumpulkan dalam kebaikan.

Memang itulah yang menjadi harapan setiap orang yang telah memasuki masa pernikahan.

Menjadi suami istri yang harmonis, bahagia di hati dan rumah tangga aman terkendali. Tapi cukupkah “ sekadar “ mengandalkan do’a dari teman atau kerabat , tanpa diawali usaha nyata untuk meraihnya , yang setelah itu kita tawakal pada Allah Ta’ala . Tentunya usaha yang dilakukan hendaknya dengan batasan syar’i yang diatur dalam ajaran Islam yang mulya ini . Sebab kalau kita tidak mengikuti aturan ini , betapa banyak pernikahan yang sudah berjalan awalnya mulus , lalu kandas ditengah jalan dan keributan sehingga tidak sedikit pula yang berakhir dengan perceraian.

Tujuan dan Alasan Menikah :

Suatu dambaan dan cita-cita setiap pasangan suami istri adalah mewujudkan keluarga yang bahagia, sejahtera, tentram dan mendapat ridha dari Allah subhanahu wa Ta’ala.

Melakukan pernikahan berarti kita telah melakukan sesuatu yang utama, separuh dari agama .

1.  Melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“ Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak kawin dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan “ ( arti Q.S. An-Nuur : 32 )

2. Melaksanakan perintah Rasul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam

“ Barangsiapa yang mampu menikah, tetapi tidak menikah maka dia bukanlah termasuk golonganku “ ( Hadist Thabrani dan Baihaqi )

3. Melengkapi agamanya

 

 

"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Danhendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.(HR. Thabrani dan Hakim).

 

4. Menjaga kehormatan diri

 

 

"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah,maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebihmembentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, makahendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad,Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

 

5. Memelihara keturunan dan memperbanyak umat.

“ Menikahlah kamu dengan beranak turun, sungguh aku akan bangga dengan banyaknya kamu sebagai umatku di hari kiamat nanti “ ( Hadist Baihaqi )

6. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan
perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara),
yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, danmengajarkan renang." (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah AlAhadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala


7. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah

Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai
Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat
sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa;bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliaubersabda, "Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang biasakalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (padatiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlilterdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah);memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkaradalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah." Merekabertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskansyahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana menurutkalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakahdia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab,
"Ya, tentu." Beliau bersabda,) "Demikian pula bila dia salurkan syahwatnyaitu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala." (Beliaukemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnyadengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, "Semua itu bisa digantikancukup dengan shalat dua raka'at Dhuha.") (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal125).

8. Mencegah masyarakat dari dekadensi moral.

Kalau manusia menyalurkan insting syahwat pada jalur yang benar , maka akan menimbulkan ketentraman dan sebaliknya bila di salurrkan pada jalur yang salah, akan terjadi malapetaka dan runtuhnya tatanan moral masyarakat.

“Pernikahan itu dapat lebih memelihara pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya berpuasa itu dapat jadi tameng mengalahkan hawa nafsu “ ( Hadits Al-Bukhari dan Muslim )

9. Mencegah masyarakat dari penyakit.

Dengan pernikahan masyarakat akan selamat dari penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan akibat hubungan seksual bebas.

10. Menumbuhkan ketenangan jiwa.

Dengan menikah, akan timbullah rasa cinta dan kasih sayang dan kesatuan suami istri. Suami dan istri beserta anak-anak dapat berkumpul, bercanda dan saling membantu.

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia jadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum berfikir “ ( Ar-Rum : 21 )

11. Adanya saling nasehat-menasehati

12. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

13. Pahala memberi contoh yang baik
"Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun." (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya?
Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

14. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada
istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama
.   Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang
dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk
kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah." (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Wahai
Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?" Beliau menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah.
Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka." (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin 'Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya."
(Saba': 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah,
berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain
berdoa: "Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

15. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut
memelihara anak yatim.

16. Mempertebal rasa kebapakan dan keibuan.

Dengan menikah maka akhlak suami istri akan terjaga sehingga akan timbul rasa kebapakan bagi laki-laki dan rasa keibuan bagi wanita.

17. Memperluas skup persaudaraan sekaligus memperkokoh pernikahan.

Pernikahan antara laki-laki dan perempuan muslim yang tadinya tidak kenal, dan tidak punya hubungan yang “lebih” akan mengikat persaudaraan diantara mereka juga keluarganya, sehingga muncul komunitas keluarga besar.

Ini akan terwujud bila seluruh keluarga – terutama suami istri -  mendalami tujuan pernikahan, keluarga yang tentram lahir maupun bathin.


Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.

1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)

2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2:
251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Berusaha, Berdo’a dan Tawakkal .

Berusaha atau berikhtiar memang sudah menjadi kewajiban manusia. Dalam masalah hasil tentu kita tidak bisa menjamin 100% sesuaiharapan kita. Maka do’a harus selalu mengiringi langkah-langkah usaha. Jangan terlalu percaya diri bahwa sekedar potensi akan selalu memberikan hasil optimal. Berdo’a kepada Nya , karena Dialah yang menentukan segalanya. Sehingga kalaupun mengalami sandungan-sandungan setelah menikah nanti tidak stress. Tidak timbul sikap saling menuduh dan menyalahkan . Anggap itu semua sebagai cobaan yang akan menambah dinamika kehidupan berumah tangga.

“ Bisa jadi sesuatu yang kamu sukai itu tidak baik bagi kamu, dan bisa jadi sesuatu yang tidak kamu sukai itu baik bagi kamu. Allah Maha mengetahui dan kalian tidak menegatahui “

Misalnya lama tidak muncul keturunan yang diharapkan, bisa bersabar dan bersabar.

Istri Mandul ? Menikah lagi juga bukan suatu masalah . Ya Khan !?

LANGKAH – LANGKAH MENUJU NIKAH YANG BERKAH :

Sesuatu pekerjaan sebelum dimulai hendaklah dipertimbangkan dan dipikir masak-masak, sehingga tidak menimbulkan rasa kecewa di kemudian hari.

Demikian juga sebelum melangsungkan pernikahan hendaklah setiap laki-laki maupun perempuan memperhatikan calon pasangannya tersebut. Betul-betul diteliti dengan mantap sehingga nanti tidak akan menyalahkan pihak lain.

1. Memilih berdasarkan agamanya.

Faktor ini yang paling dominan dan menentukan, maka harus lebih diutamakan dari kriteria lainnya. Bagaimana kita akan mengayuh bahtera rumah tangga jika agama berbeda, tentu yang paling terpengaruh adalah anak-anaknya. Juga jika yang dimaksud disini adalah pemahaman yang hakiki terhadap Islam, sehingga suami istri dapat melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai syariat Islam.

“ Wanita itu dinikahi karena empat perkara : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dank arena agamanya. Dapatkanlah wanita karena agamanya, kamu tidak akan bermasalah “ ( Hadits Al-Bukhari dan Muslim )

2. Berdasarkan keturunan dan kemuliaan.

Dalam memilih jodoh hendaklah diperhatikan keturunan dan kemuliaan, karena keluarga yang tumbuh dalam lingkungan Islam yang baik tentu akan tumbuh generasi yang baik.

Sebagaimana kisah Umar bin Al-khatthab ketika akan menikahkan anaknya Abdullah.

3. Mengutamakan orang jauh dalam kekeraban.

Demikian dulu uraian tentang “ Bagaimana Menuju Pernikahan yang Berkah “